Kamis, 02 Maret 2017

Sejenak Hening - Menutup Jendela

Suatu malam hari yang dingin karena hujan begitu derasnya tanpa sela, saya pulang ke rumah. Ternyata, jendela rumah masih terbuka. Dengan pakaian agak basah, segera saya menutup jendela, menyalakan lampu, berganti pakaian, lalu memakai jaket. Setelah beberapa saat, diselingi dengan minum teh hangat, saya merasakan tubuh kembali merasakan kehangatan di tengah tiupan angin yang dingin dan hujan yang deras. Saya pun lalu tertidur pulas. Mengarungi mimpi hingga puas. Kadang, di keramaian yang membuat kita terombang-ambing tidak menentu, kita merasa kesepian, bingung, dan tidak nyaman. Kita berharap bisa kembali "pulang" ke diri sendiri dan merasakan kehangatan lagi. Seperti yang saya lakukan saat menutup jendela dan memakai jaket, melindungi diri dari basahnya air hujan dan angin yang dingin. Apakah kita lebih memilih untuk tidak menutup jendela dan tidak memakai jaket sehingga sengaja membasahi diri dengan air hujan dan membiarkan tubuh menggigil kedinginan karena terpaan angin yang tidak mengenal ampun?
Atau kita malah menikmati perasaan kesepian, kebingungan, dan ketidaknyamanan dan tidak ingin kembali "pulang"? Apakah kita ketakutan akan kesendirian, kosong, dan kesepian yang mungkin akan kita rasakan saat mengambil sikap seperti itu? Masih belum berani menerima konsekuensi saat memilih untuk kembali "pulang" ke diri sendiri, sehingga dengan mudahnya masih gampang goyah mengikuti keramaian yang mungkin hanya sementara. Indra kita adalah jendela. Sebagai jalan masuk segala sesuatu yang ada di dunia luar diri kita dan kadang angin yang kencang dan badai masuk serta memorak-porandakan semua yang ada di dalam diri kita. Sebagian besar dari kita membiarkan jendelanya terbuka setiap saat, mempersilakan semua yang ada di luar dirinya masuk menyerbu, menembus, dan membuatnya sedih serta menciptakan masalah bagi dirinya sendiri. Tetapi, setelah itu terjadi, mencari-cari siapa yang bisa menjadi sasaran empuk untuk disalahkan. Kita pernah merasa kesepian, "dingin", dan ketakutan. Pernahkah kita melihat acara TV yang jelas-jelas kita tahu tayangannya tidak baik, tetapi kita tetap saja masih menontonnya dan tidak mengganti saluran atau mematikan TV-nya? Suara-suara yang tidak layak didengar dan kejadian-kejadian sadis yang tidak layak dipertontonkan. Hal-hal semacam itu tetap tidak menggerakkan kita untuk mematikan TV-nya, kan? Mengapa kita menyiksa diri dengan cara seperti ini? Mengapa kita tidak berusaha untuk menutup jendela?

Kita adalah apa yang kita rasakan dan pahami. Kalau kita marah, kita adalah kemarahan itu sendiri. Kalau kita sedang jatuh cinta maka kita adalah cinta. Kalau kita melihat salju yang menutupi puncak gunung, kita adalah gunung tersebut. Kita bisa jadi apa pun yang kita inginkan. Jadi, mengapa kita membuka jendela kita pada acara TV yang tidak baik untuk kita yang dibuat oleh produser yang sensasional dalam rangka mencari uang dengan mudah? Acara TV yang membuat hati kita miris, tangan kita menjadi mengepal kesal dan lelah. Siapa yang memperbolehkan acara TV seperti itu diproduksi dan ditayangkan bahkan dilihat oleh remaja dan anak-anak? Kita semua bertanggung jawab akan hal itu. Kita terlalu pasrah dan merasa selalu bersedia menonton apa pun yang ada di layar TV. Terlalu merasa kesepian, malas, dan bosan untuk menciptakan kehidupan kita sendiri tetapi tidak harus sendirian. Kita menyalakan dan membiarkan TV itu menyala, mempersilakan orang lain untuk memandu, membentuk kita, dan bahkan menghancurkan kita.Menghilangkan jati diri dengan cara seperti ini berarti rela takdir kita ditentukan oleh orang lain yang mungkin tidak peduli terhadap diri kita. Sebaiknya, kita menyadari acara-acara apa yang membahayakan sistem saraf, pikiran, dan hati kita dan acara-acara mana yang bermanfaat bagi kita. Tentunya, tidak hanya TV. Segala sesuatu di sekitar kita. Termasuk sosial media, seperti Twitter. Pernahkah kita mem-follow akun Twitter yang kita tahu tweet-nya tidak baik untuk kita, tetapi tetap saja masih mem-follow-nya bahkan membaca semua tweet-nya?
Comments


EmoticonEmoticon